Selasa, 11 Juni 2024
Senin, 10 Juni 2024
Survei Geolistrik Untuk Mengetahui Potensi Air Tanah Di Desa Bukit Pangkuasan Kecamatan Batanghari Leko Kabupaten Musi Banyuasin
![]() |
| Pengukuran Geolistrik |
Metode geolistrik merupakan metode yang memanfaatkan sifat - sifat aliran listrik di dalam bumi sehingga dapat menggambarkan lapisan bawah permukaan. Survei geolistrik dapat menjelaskan tentang potensi air tanah yang terdapat dalam lapisan bawah permukaan. Pada daerah dengan ketersediaan air permukaan yang sedikit atau bahkan tidak ada maka air tanah merupakan satu-satunya sumber air yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan makhluk hidup.
Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, maka eksplorasi air tanah dilakukan melalui tahapan yaitu melalui survei geolistrik dan hidrogeologi, dan kemudian dilanjutkan dengan pemboran sumur air dalam. Melalui pemboran eksplorasi air tanah diketahui dengan pasti muka air tanah, penurunan muka air tanah.
Kegiatan penyelidikan air tanah berupa penyelidikan geolistrik tahanan jenis (resistivitas) yang dilakukan di Desa Bukit Pangkuasan Kec. Batanghari Leko Kab. Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui kedalaman dan ketebalan dari lapisan akuifer pada area tersebut. Nantinya, hasil penyelidikan ini akan dijadikan dasar dalam kegiatan pengelolaan air tanah di area tersebut berupa kegiatan pelaksanaan pengeboran air tanah.
Penyelidikan geolistrik dilakukan atas dasar sifat fisika batuan terhadap arus listrik, dimana setiap jenis batuan yang berbeda akan mempunyai harga tahanan jenis yang berbeda pula. Hal ini tergantung pada beberapa faktor, diantaranya umur batuan, kandungan elektrolit, kepadatan batuan, jumlah mineral yang dikandungnya, porositas, permeabilitas dan lain sebagainya.
Berdasarkan hal tersebut di atas apabila arus listrik searah dialirkan ke dalam tanah melalui dua elektroda arus A dan B, maka akan timbul beda potensial antara kedua elektroda arus tersebut. Beda potensial ini kemudian diukur oleh pesawat penerima (receiver) dalam satuan miliVolt.
Berdasarkan peta geologi regional daerah penelitian termasuk dalam Formasi Muaraenim yang memiliki batuan penyusun yaitu lempung, lempung pasiran, batupasir, dan batupasir tufaan. Berdasarkan hasil pengukuran dan analisa geolistrik daerah penelitian memiliki nilai resistivitas 4,62 - 446 ohmmeter yang diinterpretasikan berdasarkan nilai resistivitas tabel telford didapatkan litologi batuan penyusunnya adalah lempung, lempung tufaan, batupasir dan batupasir tufaan. Batupasir dan batupasir tufaan dapat berperan sebagai lapisan pembawa air tanah sehingga disarankan melakukan pemboran dengan kedalaman mencapai lapisan batupasir dan batupasir tufaan.
Berdasarkan peta Cekungan Air Tanah daerah penelitian tidak termasuk kedalam zona Cekungan Air Tanah atau berada di luar wilayah batas setiap proses hidrogeologi meliputi tempat proses pengimbuhan, pengaliran dan pelepasan air tanah berlangsung. Secara hidrogeologi, Desa Bukit Pangkuasan memiliki akuifer dengan produktifitas kecil dengan kelulusan batuan rendah dan keterusan batuan rendah sampai sedang. Sehingga hal ini dapat mempengaruhi kuantitas keberadaan air tanah.
Survei Geolistrik Untuk Mengetahui Potensi Air Tanah Di Desa Baru Jaya Kecamatan Jirak Jaya Kabupaten Musi Banyuasin
| Pengukuran Geolistrik |
Kebutuhan air terus meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk
dan kebutuhan manusia, sementara ketersediaan air permukaan tidak merata di
semua kondisi dan tempat, sementara itu air tanah tidak terdapat di semua
tempat, melainkan dikontrol oleh kondisi hidrogeologi daerah tersebut. Untuk
itu maka perlu dilakukan upaya-upaya eksplorasi air tanah guna mengetahui
potensi air tanah di suatu daerah, terutama daerah-daerah yang tidak memiliki
ketersedian/ketercukupan air permukaan.
Untuk mendapatkan hasil
yang maksimal, maka eksplorasi air tanah dilakukan
melalui tahapan yaitu melalui survei geolistrik dan hidrogeologi, dan kemudian
dilanjutkan dengan pemboran sumur air dalam. Melalui pemboran eksplorasi air
tanah diketahui dengan pasti muka air tanah, penurunan muka air tanah.
Kegiatan penyelidikan air tanah berupa penyelidikan geolistrik tahanan jenis (resistivitas) yang telah dilakukan di Desa Baru Jaya Kec. Jirak Jaya Kab. Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui kedalaman dan ketebalan dari lapisan akuifer pada area tersebut. Nantinya, hasil penyelidikan ini akan dijadikan dasar dalam kegiatan pengelolaan air tanah di area tersebut berupa kegiatan pelaksanaan pengeboran air tanah.
Penyelidikan geolistrik dilakukan atas dasar sifat fisika batuan terhadap arus listrik, dimana setiap jenis batuan yang berbeda akan mempunyai harga tahanan jenis yang berbeda pula. Hal ini tergantung pada beberapa faktor, diantaranya umur batuan, kandungan elektrolit, kepadatan batuan, jumlah mineral yang dikandungnya, porositas, permeabilitas dan lain sebagainya.
Berdasarkan hal tersebut di atas apabila arus listrik searah dialirkan ke dalam tanah melalui dua elektroda arus A dan B, maka akan timbul beda potensial antara kedua elektroda arus tersebut. Beda potensial ini kemudian diukur oleh pesawat penerima (receiver) dalam satuan miliVolt.
Berdasarkan peta geologi regional dan hasil survei geolistrik daerah penelitian termasuk dalam Formasi Air Benakat. Berdasarkan hasil pengukuran dan analisa geolistrik daerah penelitian memiliki nilai resistivitas 3-96,3 ohmmeter yang diidentifikasi berdasarkan tabel telford didapatkan litologi batuan penyusunnya adalah batulempung, batupasir tufaan, batu tuff dan batulanau. Batupasir tufaan berperan sebagai lapisan pembawa air tanah sehingga disarankan melakukan pemboran dengan kedalaman mencapai lapisan batupasir tufaan.
Lapisan tanah yang berada pada Formasi Air Benakat, kandungan air tanah sangat terbatas dibandingkan Formasi Muaraenim. Daerah penelitian tidak termasuk kedalam zona Cekungan Air Tanah atau berada di luar wilayah batas setiap proses hidrogeologi meliputi tempat proses pengimbuhan, pengaliran dan pelepasan air tanah berlangsung.
Rabu, 05 Juni 2024
Siklus Hidrogeologi
Hidrogeologi (hidrologi air tanah) adalah cabang hidrologi yang berhubungan dengan air tanah dan didefinisikan sebagai ilmu tentang keterdapatan, penyebaran dan pergerakan air di bawah permukaan bumi (Chow, 1978). Hidrogeologi mempunyai makna yang sama akan tetapi penekanannya lebih besar dalam aspek ke-geologian (Todd, 1980). Oleh karena itu uraian tentang air tanah tidak akan lepas dari ilmu hidrologi, mulai dari kejadian air tanah, pergerakan air tanah dan sampai mencapai lajur jenuh didalam akifer serta pelepasannya di permukaan tanah.
Siklus hidrologi adalah sirkulasi air yang tidak pernah berhenti dari atmosfir ke bumi dan kembali ke atmosfir melalui proses kondensasi, presipitasi, evaporasi dan transpirasi. Pemanasan air samudera oleh sinar matahari merupakan kunci proses siklus hidrologi tersebut dapat berjalan secara kontinu. Air mengalami evaporasi, kemudian jatuh sebagai presipitasi dalam bentuk air hujan, salju, hujan batu, hujan es dan salju (sleet), hujan gerimis atau kabut.
Air tanah dan air permukaan merupakan sumber air yang mempunyai ketergantungan satu sama lain, air tanah adalah sumber persediaan air yang sangat penting; terutama di daerah-daerah dimana musim kemarau atau kekeringan yang panjang menyebabkan berhentinya aliran sungai. Banyak sungai dipermukaan tanah yang sebagian besar alirannya berasal dari sumber air tanah, sebaliknya juga aliran sungai yang merupakan sumber utama imbuhan air tanah.
Secara umum terdapat 2 sumber air tanah yang dijelaskan sebagai berikut :
1) Air hujan yang meresap kedalam tanah melalui pori-pori atau retakan dalam formasi batuan dan akhirnya mengalir mencapai permukaan air tanah.
2) Air dari aliran air permukaan diatas tanah seperti danau, sungai, reservoir dan lain sebaginya yang meresap melalui pori-pori tanah masuk kedalam lajur jenuh.
Siklus Hidrologi
| Skema Daur Hidrologi Global (Levin, 1985 dalam Todd, 1990) |
Secara ringkas dapat dijelaskan bahwa siklus hidrologi terus bergerak secara kontinu sebagai berikut :
1) Presipitasi
Presipitasi adalah peristiwa jatuhnya cairan dari atmosfer ke permukaan bumi, dapat berupa hujan air, hujan es maupun salju; presipitasi adalah faktor utama yang mengendalikan berlangsungnya daur hidrologi dalam suatu wilayah DAS. Keberlanjutan proses ekologi, geografi dan tata guna lahan dalam suatu wilayah DAS ditentukan oleh berlangsungnya proses hidrologi. Sekaligus juga sebagai pembatas bagi usaha pengelolaan sumber daya air permukaan dan sumber daya air tanah.
- Terdapat uap air di atmosfer
- Faktor meteorologi (suhu, kelembaban, awan)
- Lokasi/tempat sehubungan dengan sistem sirkulasi secara umum
- Terdapat rintangan alam (pegunungan, dan lain sebagainya)
2) Evaporasi
Evaporasi/evapotranspirasiadalah peristiwa berubahnya air menjadi uap yang bergerak dari permukaan tanah, air dan tumbuhan ke udara. Air yang ada di laut, di daratan, di sungai, di tanaman, dsb. kemudian akan menguap ke angkasa (atmosfer) dan kemudian akan menjadi awan. Pada keadaan jenuh uap air (awan) itu akan menjadi bintik-bintik air yang selanjutnya akan turun (precipitation) dalam bentuk hujan, salju, es. Ketika air dipanaskan oleh sinar matahari, permukaan molekul-molekul air memiliki cukup energi untuk melepaskan ikatan molekul air tersebut dan kemudian terlepas dan mengembang sebagai uap air yang tidak terlihat di atmosfir.
Infiltrasi/perkolasi adalah fenomena meresapnya air kedalam ke dalam tanah - Air bergerak ke dalam tanah melalui celah-celah dan pori-pori tanah dan batuan menuju muka air tanah. Air dapat bergerak akibat aksi kapiler atau air dapat bergerak secara vertikal atau horizontal dibawah permukaan tanah hingga air tersebut memasuki kembali sistem air permukaan. Kecepatan infiltrasi cenderung menurun secara eksponensial (Horton, 1933) pada saat hujan meningkat yaitu apabila curah hujan melebihi kapasitas infiltrasinya.
Larian air permukaan (surface run off) diatas permukaan tanah dekat dengan aliran utama dan danau; makin landai lahan dan makin sedikit pori-pori tanah, maka aliran permukaan semakin besar. Air permukaan, baik yang mengalir maupun yang tergenang (danau, waduk, rawa), dan sebagian air bawah permukaan akan terkumpul dan mengalir membentuk sungai dan berakhir ke laut.
Selasa, 04 Juni 2024
Proses Terbentuknya Batubara
Pengertian Batubara
Pembentukan Batubara
Tingkat perubahan yang dialami batubara, dari gambut sampai menjadi antrasit (disebut sebagai pengarangan) memiliki hubungan yang penting dan hubungan tersebut disebut sebagai ‘tingkat mutu’ batu bara dapat dilihat. Berdasarkan tingkat proses pembentukannya yang dikontrol oleh tekanan, panas dan waktu, batubara umumnya dibagi dalam lima kelas: antrasit, bituminus, sub-bituminus, lignit dan gambut.
Jenis Batubara dan Sifatnya
| Jenis, Sifat dan Kelas Batubara (Sukandar, 1995) |
Tempat Terbentuknya Batubara
Senin, 03 Juni 2024
Manfaat Penggunaan Turap
| Turap Baja |
| Turap Beton |
| Turap Kayu |
Kamis, 30 Mei 2024
Metode Geolistrik Sebagai Penyelidikan Awal Pembangunan Turap Di Tepi Sungai
![]() |
| Contoh Pembangunan Turap di Kalbar (suarapemredkalbar.com) |
Erosi merupakan perpindahan atau terangkutnya tanah dari suatu tempat ke tempat lain oleh media alami. Erosi dapat terjadi karena penggerusan tebing sungai oleh air yang mengalir atau hantaman ombak yang cukup kuat. Sehingga perlu dilakukan adanya perlindungan terhadap tebing sungai agar tidak terjadi erosi. Untuk mengantisipasi terjadinya erosi maka perlu dibangun turap. Turap merupakan susunan konstruksi yang bertujuan untuk penahan tekanan pada tanah, sehingga berguna untuk mencegah runtuhan tanah. Turap memiliki sheet pile yang akan membentuk suatu dinding vertikal untuk menahan tanah dengan perbedaan elevasi dan dirancang secara berkesinambungan ke bawah permukaan.
Dalam perencanaan pembangunan atau pemasangan pancang untuk bangunan turap perlu dilakukan penyelidikan atau identifikasi kondisi lapisan lapisan bawah permukaan. Suatu bangunan yang dibangun tanpa memperhatikan kondisi litologi bawah permukaan akan menyebabkan resiko yang besar terhadap kekuatan bangunan tersebut. Salah satu metode yang dapat mengetahui kondisi bawah permukaan yaitu metode geolistrik.
Metode geolistrik merupakan metode yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi lapisan bawah permukaan dengan cara mempelajari sifat aliran listrik pada batuan di bawah permukaan bumi. Prinsip pengukuran metode geolistrik dilakukan dengan cara menginjeksikan arus listrik ke dalam bumi dan mengukur nilai beda potensial yang dihasilkan.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode geolistrik konfigurasi Wenner-Schlumberger. Konfigurasi Wenner-Schlumberger merupakan gabungan dari konfigurasi dasar yang diterapkan dengan tujuan untuk mendapatkan gambaran bawah permukaan. Konfigurasi Wenner-Schlumberger memiliki sensitifitas yang cukup baik secara horizontal dan vertikal.
Berdasarkan hasil analisa geolistrik, litologi yang didapatkan dari interpretasi data geolistrik yang dikorelasikan menurut peta geologi, daerah penelitian berada pada formasi alluvium dengan batuan penyusun yaitu lempung, bongkah, kerikil, kerakal, pasir dan batupasir. Daerah penelitian berada di tebing sungai yang mempunyai kemiringan curam sehingga berpotensi terjadi longsor. Lapisan longsor ditandai dengan adanya lapisan impermeable berada di bawah lapisan permeable dan lapisan impermeable akan bertindak sebagai bidang gelincir yang kemudian akan menarik lapisan permeable (Pranata dkk).
Dari hasil korelasi antara informasi penampang 2D geolistrik dengan data geologi, maka dapat direkomendasikan kedalaman tiang pancang untuk pembangunan turap yang dapat mengantisipasi longsor. Pada penelitian ini, lapisan yang berperan sebagai bidang gelincir adalah lempung. Direkomendasikan pada daerah penelitian untuk dibangun tiang pancang pada kedalaman 6-8 meter. Ujung dari tiang pancang harus sampai pada lapisan lempung terdalam karena tiang pancang harus memotong bidang gelincir.
Menurut Kusuma dkk, lempung terdiri dari butir yang sangat kecil dan menunjukkan sifat kohesif sehingga tiang pancang yang diletakkan akan lebih melekat satu sama lain. Tiang pancang yang mencapai kedalaman pada lapisan lempung akan saling mengikat dan menjadikan bangunan turap kuat dan kokoh.
Selasa, 28 Mei 2024
Waspada Bencana Tanah Longsor
Tanah longsor adalah perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan, tanah, atau material campuran tersebut, bergerak ke bawah atau keluar lereng.
Ciri-Ciri Daerah Rawan Longsor:
1. Daerah bukit, lereng dan pegunungan dengan kemiringan lebih dari 20 derajat.2. Kondisi lapisan tanah tebal diatas lereng.
3. Sistem tata air dan tata guna lahan yang buruk.
4. Lereng terbuka atau gundul akibat penebangan pohon sembarangan.
5. Adanya retakan pada bagian atas tebing.
6. Terdapat mata air atau rembesan air pada tebing yang disertai dengan longsoran kecil.
7. Pembebanan yang berlebihan pada lereng seperti adanya bangunan rumah atau sarana lainnya.
Jenis Tanah Longsor
| Longsoran Translasi |
| Longsoran Rotasi |
3. Pergerakan Blok adalah perpindahan batuan yang bergerak pada bidang gelincir berbentuk rata. Longsoran ini disebut juga longsoran translasi blok batu.
| Pergerakan Blok |
4. Runtuhan Batu terjadi ketika sejumlah besar batuan atau material lain bergerak ke bawah dengan cara jatuh bebas. Umumnya terjadi pada lereng yang terjal hingga menggantung, terutama di daerah pantai. Batu-batu besar yang jatuh dapat menyebabkan kerusakan yang parah.
| Rayapan Tanah |
Penyebab Longsor Yang Sering Terjadi
Senin, 27 Mei 2024
Identifikasi Bidang Gelincir Zona Rawan Longsor Menggunakan Metode Geolistrik
Bidang gelincir terbentuk karena adanya perbedaan lapisan antara lapisan tanah bagian atas dengan lapisan yang ada di bawahnya. Lapisan paling atas sebuah lereng biasanya adalah lapisan tanah yang lolos air sehingga air hujan dengan mudah terinfiltrasi ke dalam lereng. Air hujan yang masuk kedalam tanah biasanya terhambat akibat adanya lapisan kedap air (impermeable) yang menjadi bidang gelincir. Bidang gelincir dapat dideteksi dengan menggunakan metode geolistrik (Muchlis, 2015).
Metode geolistrik resistivitas merupakan salah satu dari metode geofisika yang dapat mendeteksi aliran listrik di bawah permukaan bumi. Salah satu aplikasi metode geolistrik tahanan jenis adalah dapat mengidentifikasi bidang gelincir pada daerah rawan longsor. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, metode geolistrik dapat dipadukan dengan hasil pengeboran di beberapa titik pada daerah penelitian.
Interpretasi data resistivitas 2 dimensi untuk melihat sebaran nilai resistivitas permukaan lokasi penelitian berdasarkan warna yang diberikan pada penampakan hasil pemrosesan data. Berdasarkan perbedaan nilai resistivitas inilah dapat diinterpretasi kedalaman atau datum point dari setiap titik sounding. Hasil inversi 2D dianalisa berdasarkan nilai resistivitas dan data hasil pengeboran. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh struktur geologi, stratigrafi batuan dan bentuk agihan air tanah daerah penelitian yang dituangkan dalam peta.
Setelah memperoleh hasil inversi 2D yang dianalisa berdasarkan nilai resistivitas dan data hasil pengeboran, selanjutnya dilakukan drilling (pengeboran). Drilling dilakukan dengan tujuan untuk membandingkan hasil interpretasi data geolistrik 2D dengan kenyataan di lapangan. data pengeboran digunakan untuk analisa litologi serta kedalaman batuan dilokasi penelitian.
Kedalaman bidang gelincir dapat bervariasi karena dipengaruhi oleh pelapukan batuan. Menurut Melkianus et al (2020) pelapukan batuan dapat terjadi karena berbagai macam faktor seperti: waktu, jenis dan struktur batuan, topografi, organisme, iklim dan cuaca serta keadaan vegetasi. Proses pelapukan batuan memiliki pengaruh yang signifikan dalam penentuan bidang gelincir. Proses ini akan mengakibatkan perubahan fisik, mekanik dan kimia batuan pada zona longsoran (Permanajati, 2019). Batuan dan mineral yang mengalami pelapukan menghasilkan partikel dengan berbagai macam ukuran yaitu, batu, kerikil, pasir, lempung dan tanah liat.
Kedalaman bidang gelincir pada daerah rawan longsor penting untuk diketahui karena dapat mengetahui seberapa besar resiko longsor yang terjadi. Semakin dalam bidang gelincir, tingkat bahaya longsor akan semakin besar. Semakin dangkal bidang gelincir, tingkat bahaya longsor akan semakin kecil (Zakaria, 2011).
Survei Geolistrik Untuk Mengetahui Potensi Air Tanah Di Kabupaten Tanjung Jabung Timur
Metode geolistrik merupakan metode yang memanfaatkan sifat-sifat aliran listrik di dalam bumi sehingga dapat menggambarkan lapisan bawah permukaan. Survei geolistrik dapat menjelaskan tentang potensi air tanah yang terdapat dalam lapisan bawah permukaan. Pada daerah dengan ketersediaan air permukaan yang sedikit atau bahkan tidak ada maka air tanah merupakan satu-satunya sumber air yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan makhluk hidup.
Meningkatnya kebutuhan air disebabkan karena adanya peningkatan jumlah penduduk, sementara ketersediaan air permukaan tidak merata di semua tempat. Ketersediaan air permukaan dipengaruhi oleh musim, ketika musim kemarau beberapa daerah mengalami dapat mengalami kekurangan air. Oleh karena itu diperlukan upaya-upaya eksplorasi air tanah untuk mengetahui potensi air tanah di suatu daerah yang tidak memiliki ketersediaan air permukaan.
Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, eksplorasi air tanah dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu survei geolistrik yang dikorelasikan dengan data geologi dan hidrogeologi suatu daerah, kemudian dilanjutkan dengan pemboran sumur air dalam. Melalui pemboran dapat diketahui dengan pasti muka air tanah dan penurunan muka air tanah.
Secara hidrogeologi Kabupaten Tanjung Jabung Timur didominasi daerah dengan akuifer setempat produktif. Akuifer dengan aliran melalui celahan dan ruang antar butir. Terdapat juga setempat akuifer berproduktif sedang yaitu akuifer dengan aliran melalui ruang antar butir. Berdasarkan peta geologi lembar Jambi, daerah penelitian termasuk kedalam 3 formasi yaitu Formasi Muara Enim (Tmpm), Formasi Kasai (QTk) dan Endapan Aluvium (Qa).
Hasil pengukuran geolistrik dilapangan mendapatkan nilai resistivitas semu lapisan bawah permukaan. Kemudian dilakukan pengolahan data sehingga didapatkan nilai resistivitas sebenarnya. Untuk mengetahui lapisan bawah permukaan dilakukan pengolahan data sehingga menampilkan kurva hubungan nilai resistivitas dan kedalaman lapisan seperti gambar di bawah.
Dari kurva diatas kemudian dilakukan interpretasi didapatkan survei geolistrik dengan resistivitas batuan 5,08-125 ohmmeter dengan batuan penyusun lempung dan batupasir tufaan. Batuan yang dapat berperan sebagai lapisan akuifer (lapisan pembawa air tanah) adalah batupasir tufaan, dikarenakan batupasir tufaan memiliki porositas dan permeabilitas yang baik. Sehingga batupasir tufaan dapat menyimpan dan meloloskan air tanah dengan baik. Data geolistrik dapat memberikan gambaran bawah permukaan secara 1 dimensi yang menyatakan nilai kedalaman dan ketebalan lapisan. Dari hasil survei geolistrik dapat dilakukan pemboran air tanah dengan desain yang disesuaikan dengan data kedalaman dan ketebalan lapisan.
Jumat, 24 Mei 2024
Kelebihan dan Kekurangan Sumur Bor
Sumur bor merupakan salah satu sumur yang dibuat dengan menggunakan alat bor melalui proses penggalian tanah untuk mendapatkan sumber air yang ada di dalam tanah. Pada zaman dahulu cara termudah untuk mendapatkan sumber air yang paling sederhana adalah dengan menggali tanah secara manual menggunakan cangkul atau peralatan lainnya. Cara ini memang membutuhkan waktu yang jauh lebih lama dibandingkan saat ini ketika tersedia mesin bor.
Sumur bor dibedakan menjadi 2 macam, yaitu sumur bor manual dan sumur bor mesin. Biasanya sumur bor manual dilakukan untuk kedalaman yang relatif dangkal dan menghabiskan biaya yang relatif hemat. Sumur bor mesin menggunakan alat bantu mesin sehingga proses pembuatannya lebih cepat dan sempurna. Alat yang digunakan sumur bor mesin modern sehingga bisa menembus lapisan keras (batuan) bawah permukaan.
Keuntungan dari penggunaan sumur bor adalah kita tidak perlu mengeluarkan biaya untuk membayar tagihan air setiap bulannya, cukup dengan sedia listrik kita dapat menggunakan air yang dihasilkan dari sumur bor. Air yang dihasilkan dari sumur bor yang dalam relatif bersih, tidak berbau dan tidak terkontaminasi dengan bahan kimia. Volume air yang dihasilkan juga relatif besar sehingga kita tidak perlu khawatir kekurangan air terutama ketika musim kemarau. Namun demikian tentu kita tetap harus berhemat air untuk menjaga kelestarian lingkungan.
Kekurangan dalam menggunakan sumur bor adalah sangat bergantung pada listrik, jika listrik padam pompa air sumur bor tidak dapat mengambil air dari bawah permukaan. Namun hal ini dapat diatasi dengan menyediakan penampung air (tedmond) sehingga kita memiliki cadangan air dan tidak perlu memompa air secara terus menerus.
Selasa, 21 Mei 2024
Perbedaan Air Tanah dan Akuifer
Air tanah didefinisikan sebagai air yang terdapat di bawah permukaan bumi. Salah satu sumber utama air tanah adalah air hujan yang meresap ke bawah melalui lubang pori di antara butiran tanah. Air yang tidak tertahan dekat permukaan menerobos kebawah sampai zona dimana seluruh ruang terbuka pada sedimen atau batuan terisi air (jenuh air). Air dalam zona saturasi (zone of saturation) dinamakan air tanah (ground water), batas atas zona ini disebut muka air tanah (water table). Lapisan tanah, sedimen atau batuan diatasnya yang tidak jenuh air disebut zona aerasi (zone of aeration). Muka air tanah umumnya tidak datar (horizontal) melainkan mengikuti permukaan topografi diatasnya. Hujan akan mengisi (recharge) air bawah permukaan, daerah dimana air hujan meresap (precipitation) sampai zona saturasi dinamakan daerah rembesan (recharge area), dan daerah dimana air tanah keluar dinamakan discharge area.
Sedangkan akuifer adalah lapisan bawah tanah yang mengandung air dan dapat mengalirkan air. Hal ini disebabkan karena lapisan akuifer memiliki porositas yang baik sehingga mampu menyimpan air dan bersifat permeable yang mampu mengalirkan air. Contoh batuan pada lapisan akuifer adalah pasir, kerikil, batupasir, batu gamping rekahan.
Berdasarkan
perlakuannya terhadap air tanah, maka lapisan batuan dapat dibedakan menjadi :
1. Aquifer
adalah formasi geologi yang mengandung air dan mampu mengalirkan air melalui
kondisi alaminya. Contoh, pasir, kerikil, batupasir, dan batugamping rekahan.
2. Aquiclude
adalah formasi geologi yang mungkin mengandung air tetapi dalam kondisi alami
tidak mampu mengalirkannya. Lapisan ini sering disebut lapisan kedap air.
Contoh, lempung, serpih, tuff halus dan lanau.
3. Aquifuge
adalah formasi geologi kedap yang tidak mengandung dan tidak mampu mengalirkan
air. Contoh, batuan kristalin, metamorf kompak.
4. Aquitard adalah formasi geologi yang semi kedap, mampu mengalirkan air tetapi dengan laju yang sangat lambat jika dibandingkan dengan akuifer. Contoh, batupasir lempungan, batulanau, lempung pasiran.
1. Akuifer bebas/tak tertekan (Unconfined aquifer) yaitu lapisan rembesan air yang mempunyai
lapisan dasar kedap air dan bagian atas lapisan tidak kedap air. Akuifer bebas
sering disebut akuifer dangkal karena air tanah pada akuifer bebas juga
merupakan batas atas zona jenuh air.
2. Akuifer tertekan (Confined aquifer) yaitu suatu akuifer jenuh air yang dibatasi oleh
akuiklud pada lapisan atas dan lapisan bawahnya. Akuife tertekan terisi penuh
oleh air tanah dan tidak mempunyai muka air tanah yan bersifat bebas, sehingga
pengeboran yang menembus air menyebabkan naiknya muka air tanah di dalam sumur
bor yang melebihi kedudukan semula disebut muka pisometrik.
3. Akuifer semi tertekan (Leakage aquifer) yaitu akuifer yang memiliki air yang jenuh dan
dibatasi oleh lapisan atasnya berupa lapisan akuitar. Akuifer semi-tertekan
merupakan akuifer yang bersifat jenuh sempurna, pada bagian atas dibatasi oleh
lapisan dengan sifat semi-lulus air dan bagian bawahnya merupakan lapisan
dengan sifat lulus air ataupun semi-lulus air.
Tahapan Pengeboran Sumur Air Tanah Dalam
Adapun tahapan yang perlu dilakukan pada pengeboran sumur air tanah dalam yaitu :
1. Persiapan
Tahap persiapan adalah tahap awal untuk mempersiapkan peralatan dan bahan-bahan yang digunakan pada proses pengeboran sumur dalam. Proses ini sangat penting dilakukan untuk memastikan alat dan bahan yang digunakan dapat berfungsi dengan baik.
2. Mobilisasi
Mobilisasi merupakan pekerjaan mendatangkan peralatan dan bahan-bahan pengeboran beserta kru ke lokasi pemboran.
3. Persiapan Lokasi
Tahap persiapan lokasi terdiri dari beberapa pengerjaan yaitu pembersihan, perataan dan pengerasan lokasi untuk posisi tumpuan mesin bor; pembuatan bak lumpur, bak kontrol dan selokan untuk sirkulasi lumpur yang dihasilkan saat proses pengeboran dan penanaman casing surface pada posisi titik bor apabila formasi lapisan tanah paling atas yang akan di bor merupakan lapisan tanah yang mudah runtuh.
4. Setting dan Rig Up
Setting merupakan proses penyetelan mesin bor, pompa lumpur beserta selang-selangnya. Rig up merupakan proses menegakkan menara yang disesuaikan dengan setting mesin bor. Pada proses setting juga dilakukan penyediaan air serta pengadukan lumpur bor untuk sirkulasi pengeboran.
5. Pilot Hole
Pilot hole merupakan pekerjaan pemboran tahap awal dengan diameter lubang kecil sampai dengan kedalaman yang diinginkan. Diameter pilot hole biasanya lebih kecil dibandingkan diameter lubang sumur yang diinginkan. Pada proses pilot hole ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu kekentalan lumpur, kecepatan mata bor dan contoh pecahan formasi lapisan tanah (cutting). Contoh pecahan lapisan tanah perlu disimpan dan dicatat kedalamannya. Hal ini dilakukan agar dapat digunakan sebagai data pendukung untuk menentukan posisi kedalaman sumber akuifer.
6. Reaming Hole
Reaming hole adalah proses memperbesar lubang bor sesuai diameter konstruksi pipa casing yang diinginkan. Idealnya selisih diameter lubang bor reaming dengan pipa casing adalah 6 inch, agar dapat mempermudah masuknya konstruksi pipa casing dan gravel pack.
7. Pembuatan Saringan (Screen)
Pembuatan screen pada pipa pvc harus disesuaikan dengan data hasil cutting selama pilot hole.
8. Konstruksi
Konstruksi merupakan tahap memasukkan pipa pvc dan screen kedalam lubang bor. Peletakkan screen harus sesuai dengan hasil cutting karena nantinya air akan masuk ke sumur bor melalui screen. Sehingga diharapkan perencanaan sumur dalam yang dihasilkan mampu memberikan pemanfaatan yang maksimal dan memiliki kapasitas yang optimal.
9. Gravel Pack
Merupakan tahapan memasukkan kerikil pada rongga antara konstruksi pipa casing dan dinding lubang bor dengan tujuan agar dapat menyaring masuknya air dari lapisan akuifer kedalam screen dan mencegah masuknya partikel kecil seperti pasir ke lubang screen. Proses gravel pack dilakukan bersamaan dengan sirkulasi air yang encer supaya kerikil dapat tersusun dengan sempurna.
10.Grouting
Grouting (pengecoran) dilakukan sebagai tumpuan konstruksi pipa casing dan mencegah masuknya air permukaan kedalam pipa casing melalui screen.
11. Well Development
Well development merupakan tahapan pencucian dan pembersihan sumur dengan tujuan untuk membersihkan sumur dari lumpur ataupun partikel halus yang dapat mempengaruhi kualitas air yang didapatkan. Tahap well development dapat menghilangkan atau mengurangi penyumbatan akuifer pada dinding lubang bor, meningkatkan porositas dan permeabilitas akuifer di sekeliling sumur dalam serta menstabilkan formasi lapisan pasir disekeliling screen sehingga pemompaan air bebas dari kandungan pasir ataupun partikel halus lainnya.
12. Pumping Test
Pumping test dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kondisi akuifer dan kapasitas sumur dalam, sehingga dapat memilih pompa yang sesuai. Pumping test dilakukan selama beberapa jam sampai mendapatkan kualitas air yang baik dengan kapasitas yang sesuai dengan debit air yang diinginkan.
13. Finishing
Tahap finishing meliputi pemasangan pompa secara permanent, panel listrik dan instalasi kabelnya, pembuatan bak kontrol, instalasi perpipaan serta pembersihan dan perapihan lokasi.

.jpeg)
