Pengertian Batubara
Batubara adalah termasuk salah satu bahan bakar fosil. Pengertian umumnya adalah batuan sedimen yang dapat terbakar, terbentuk dari endapan organik, utamanya adalah sisa-sisa tumbuhan dan terbentuk melalui proses pembatubaraan. Unsur-unsur utamanya terdiri dari karbon, hidrogen dan oksigen. Batubara juga adalah batuan organik yang memiliki sifat-sifat fisika dan kimia yang kompleks yang dapat ditemui dalam berbagai bentuk.
Menurut Irwandi Arif batubara berasal dari tumbuhan yang telah mati dan tertimbun dalam cekungan yang berisi air dalam waktu sangat lama, mencapai jutaan tahun. Selain itu batubara juga digunakan sebagai sumber energi, akan tetapi tidak dapat dijelaskan dalam penggunaan batubara, karena setiap jenis batubara mempunyai karakteristik yang berbeda pada sifat fisik dan kandungan kimianya. Apabila batubara menghasilkan panas atau memiliki nilai kalor yang tinggi maka dapat dikatakan kualitas batubara tersebut sangat tinggi, yang bergantung pada komposisi atau kandungan batubara itu sendiri, seperti kadar air total, abu, partikel yang beterbangan dan karbon terikat.
Batubara terbentuk melalui proses pengendapan yang terjadi di lokasi tertentu yang disebut lingkungan pengendapan. Lingkungan sedimen ini dapat berupa rawa, delta, sungai, danau, atau lokasi seperti cekungan tempat bahan tanaman menumpuk dan mengendap.
Kualitas batubara sangat dipengaruhi oleh suhu, tekanan dan proses pembentukannya, yaitu pada saat bahan organik mengalami proses sedimentasi maka bahan organik tersebut akan mendapat tekanan dari lapisan di atasnya. Dengan kata lain pembentukan batubara akan dipengaruhi oleh faktor geologi seperti umur geologi, struktur geologi dan lingkungan pengendapannya.
Pembentukan Batubara
Pembentukan batubara dimulai sejak Carboniferous Period (Periode Pembentukan Karbon atau Batu Bara) – dikenal sebagai zaman batu bara pertama – yang berlangsung antara 360 juta sampai 290 juta tahun yang lalu. Mutu dari setiap endapan batu bara ditentukan oleh suhu dan tekanan serta lama waktu pembentukan, yang disebut sebagai ‘maturitas organik’.
Proses awalnya gambut berubah menjadi lignite (batubara muda) atau brown coal (batubara coklat). Ini adalah batu bara dengan jenis maturitas organik rendah. Dibandingkan dengan batu bara jenis lainnya, batubara muda agak lembut dan warnanya bervariasi dari hitam pekat sampai kecoklat-coklatan Mendapat pengaruh suhu dan tekanan yang terus menerus selama jutaan tahun, batubara muda mengalami perubahan yang secara bertahap menambah maturitas organiknya dan mengubah batu bara muda menjadi batubara ‘sub-bitumen’. Perubahan kimiawi dan fisika terus berlangsung hingga batu bara menjadi lebih keras dan warnanya lebh hitam dan membentuk ‘bitumen’ atau ‘antrasit’. Dalam kondisi yang tepat, peningkatan maturitas organik yang semakin tinggi terus berlangsung hingga membentuk antrasit.
Tingkat perubahan yang dialami batubara, dari gambut sampai menjadi antrasit (disebut sebagai pengarangan) memiliki hubungan yang penting dan hubungan tersebut disebut sebagai ‘tingkat mutu’ batu bara dapat dilihat. Berdasarkan tingkat proses pembentukannya yang dikontrol oleh tekanan, panas dan waktu, batubara umumnya dibagi dalam lima kelas: antrasit, bituminus, sub-bituminus, lignit dan gambut.
Jenis Batubara dan Sifatnya
Batubara mempunyai suatu campuran padatan yang heterogen dan terdapat di alam dalam
tingkat/grade yang berbeda, mulai dari lignit, subbituminus, bituminus, antrasit dan gambut.
Sifat batubara menurut jenisnya:
1. Antrasit, merupakan kelas batubara tertinggi, dengan warna hitam berkilauan
(luster) metalik, mengandung antara 86-98% unsur karbon (C) dengan kadar air
kurang dari 80%. Nilai yang dihasilkan hampir 15.000 BTU per pon.
2. Bituminus, mengandung 68-86% unsur karbon (C) serta kadar air 8-10% dari beratnya, nilai panas yang dihasilkan antara 10.500-15.500 BTU per pon.
3. Sub-Bituminus, mengandung sedikit karbon dan banyak air, oleh karena itu menjadi sumber panas yang kurang efisien dibandingkan dengan Bituminus, dengan kandungan karbon 3-45% dan menghasilkan nilai panas antara 8.300 hingga 13.000 BTU per pon.
4. Lignit, biasa disebut juga dengan brown coal adalah batubara yang sangat lunak yang mengandung air 35-75% dari beratnya. Lignit merupakan batubara geologis muda yang memiliki kandungan karbon terendah, 25-35%. Nilai panas yang dihasilkan berkisar antara 4.000 hingga 8.300 BTU per pon.
5. Gambut berpori dan memiliki kadar air diatas 75% serta nilai kalori yang paling rendah.
| Jenis, Sifat dan Kelas Batubara (Sukandar, 1995) |
Tempat Terbentuknya Batubara
a) Teori Insitu
Teori ini mengatakan bahwa bahan-bahan pembentuk lapisan batubara, terbentuknya di tempat dimana tumbuh-tumbuhan asal itu berada, dengan demikian maka setelah tumbuhan tersebut mati, belum mengalami proses transportasi segera tertutup oleh lapisan sedimen dan mengalami proses coalification. Jenis batubara yang terbentuk dengan cara ini mempunyai penyebaran luas dan merata, kualitasnya lebih baik karena kadar abunya relatif kecil, batubara yang tebentuk seperti ini di Indonesia di dapatkan di lapangan batubara Muara Enim (Sumatera Selatan).
b) Teori Drift
Teori ini menyebutkan bahwa bahan-bahan pembentuk lapisan batubara terjadinya di tempat yang berbeda dengan tempat tumbuhan semula hidup dan berkembang. Dengan demikian dengan tubuhan yang telah mati diangkut oleh media air dan di berakumulasi di suatu tempat, tertutup oleh batuan sedimen dan mengalami proses coalification. Jenis batubara yang terbentuk dengan cara ini mempunyai penyebaran tidak luas, tetapi di jumpai di beberapa tempat, kualitas kurang baik karena banyak mengandung material pengotor yang terangkut bersama selama proses pengangkutan dari tempat asal tanaman ke tempat sedimentasi, batubara yang terbentuk seperti ini di Indonesia didapatkan di lapangan batubara delta Mahakam purba, KalimantanTimur.