Tampilkan postingan dengan label Geolistrik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Geolistrik. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 September 2024

Survei Geolistrik Untuk Mengetahui Potensi Air Tanah Di Desa Sungai Napal Kabupaten Musi Banyuasin

   


Metode geolistrik merupakan metode yang memanfaatkan sifat-sifat aliran listrik di dalam bumi sehingga dapat menggambarkan lapisan bawah permukaan. Survei geolistrik dapat menjelaskan tentang potensi air tanah yang terdapat di dalam lapisan bawah permukaan. Pada daerah dengan ketersediaan air permukaan yang sedikit atau bahkan tidak ada maka air tanah merupakan satu-satunya sumber air yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat ataupun makhluk hidup.

Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, maka eksplorasi air tanah dilakukan melalui tahapan yaitu melalui survei geolistrik dan hidrogeologi, dan kemudian dilanjutkan dengan pemboran sumur air dalam. Melalui pemboran eksplorasi air tanah diketahui dengan pasti muka air tanah, penurunan muka air tanah.

Kegiatan penyelidikan air tanah berupa penyelidikan geolistrik tahanan jenis (resistivitasyang dilakukan di Desa Sungai Napal Kecamatan Batanghari Leko Kabupaten Musi Banyuasin. Kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui kedalaman dan ketebalan dari lapisan akuifer pada area tersebut. Nantinya, hasil penyelidikan ini akan dijadikan dasar dalam kegiatan pengelolaan air tanah di area tersebut berupa kegiatan pelaksanaan pengeboran air tanah.

Penyelidikan geolistrik dilakukan atas dasar sifat fisika batuan terhadap arus listrik, dimana setiap jenis batuan yang berbeda akan mempunyai harga tahanan jenis yang berbeda pula. Hal ini tergantung pada beberapa faktor, diantaranya umur batuan, kandungan elektrolit, kepadatan batuan, jumlah mineral yang dikandungnya, porositas, permeabilitas dan lain sebagainya.

Berdasarkan hal tersebut di atas apabila arus listrik searah dialirkan ke dalam tanah melalui dua elektroda arus A dan B, maka akan timbul beda potensial antara kedua elektroda arus tersebut. Beda potensial ini kemudian diukur oleh pesawat penerima (receiver) dalam satuan miliVolt.

Berdasarkan peta geologi regional daerah penelitian termasuk dalam Formasi Muaraenim yang memiliki batuan penyusun yaitu batulempung, batulempung pasiran, batu tuff dan batupasir tufaan. Berdasarkan hasil pengukuran dan analisa geolistrik daerah penelitian memiliki nilai resistivitas 4 - 290 ohmmeter yang diinterpretasikan berdasarkan nilai resistivitas tabel telford didapatkan litologi batuan penyusunnya adalah batulempung, batulempung pasiran, batu tuff dan batupasir tufaan. Batupasir tufaan dapat berperan sebagai lapisan pembawa air tanah sehingga disarankan melakukan pemboran dengan kedalaman mencapai lapisan batupasir tufaan. 

Berdasarkan peta Cekungan Air Tanah daerah penelitian tidak termasuk kedalam zona Cekungan Air Tanah atau berada di luar wilayah batas setiap proses hidrogeologi meliputi tempat proses pengimbuhan, pengaliran dan pelepasan air tanah berlangsung. Secara hidrogeologi, Desa Sungai Napal memiliki akuifer dengan produktifitas kecil dengan kelulusan batuan rendah dan keterusan batuan rendah. Sehingga hal ini dapat mempengaruhi kuantitas keberadaan air tanah. 

 

Kamis, 13 Juni 2024

Metode Geolistrik Dan Manfaat Penggunaannya

Pengukuran Geolistrik

Apa Itu Metode Geolistrik?


Metode geolistrik merupakan salah satu metode geofisika aktif yang bertujuan untuk mengetahui respon sifat aliran listrik di bawah permukaan bumi. Metode geolistrik sering dimanfaatkan untuk mengetahui bagaimana struktur bawah permukaan, mengetahui sebaran endapan mineral dan batubara, mendeteksi keberadaan lapisan akuifer air tanah, kajian geologi teknik, dan dapat digunakan untuk upaya mitigasi bencana.

Cara Kerja Metode Geolistrik


Metode geolistrik mempelajari struktur bawah permukaan berdasarkan beda nilai resistivitas terhadap kedalaman. Metode geolistrik menyelidiki bawah permukaan bumi dengan memanfaatkan sifat - sifat aliran listrik dengan cara mengalirkan arus ke dalam tanah melalui dua elektrode arus (C1 dan C2) dan responnya berupa beda potensial diukur melalui dua elektroda potensial (P1 dan P2). Berdasarkan konfigurasi elektroda dan respon yang terukur maka sifat kelistrikan batuan yang berada di bawah permukaan dapat diperkirakan. 

Berdasarkan sumber arusnya metode geolistrik dibagi dua, yaitu : 

1. Metode aktif, yaitu metode geolistrik yang menggunakan sumber arus listrk yang digunakan dialirkan ke dalam tanah atau batuan di bawah permukaan bumi, kemudian efek potensialnya diukur di dua titik permukaan tanah dengan menggunakan aktifitas elektrokimia alami.

2. Metode pasif, yaitu metode geolistrik yang menggunakan arus listrik yang terjadi akibat aktifitas elektrokimia dan elektromekanik dalam material-material penyusun batuan. Metode geolistrik yang memanfaatkan adanya sumber arus listrik alami yaitu self potensial (SP) dan magnetotelluric.

Berdasarkan tujuannya, cara pengukuran resistivitas dibagi dua yaitu :

1. Metode Resistivitas Sounding

Metode ini bertujuan untuk mempelajari variasi resistivitas batuan yang ada di bawah permukaan bumi secara vertikal. Pada saat pengukuran di lapangan, spasi elektroda arus dan potensial diperbesar secara bertahap sesuai dengan konfigurasi elektroda yang digunakan. Semakin panjang bentangan jarak elektrodanya, maka semakin dalam pula lapisan batuan yang dapat ditembus, meskipun masih dalam batas - batas tertentu.

2. Metode Resistivitas Mapping

Metode ini bertujuan untuk mempelajari variasi resistivitas batuan yang ada di bawah permukaan bumi secara lateral atau horizontal. Pada pengukuran di lapangan, spasi elektroda arus dan potensial dibuat sama untuk semua titik di permukaan bumi. Hasil dari pengukuran ini dapat dijadikan sebagai peta kontur berupa sebaran nilai resistivitasnya

Sifat Kelistrikan Batuan 

Batuan tersusun dari berbagai mineral serta memiliki sifat kelistrikan. Sifat kelistrika pada batuan merupakan karakteristik batuan yang dapat menghantarkan atau menghambat arus listrik. Hambatan atau resistivitas yang dimiliki batuan dipengaruhi oleh porositas, kadar air, dan mineral. 

Aliran arus listrik pada batuan dan mineral dibagi menjadi tiga macam, yaitu :

1. Konduksi Secara Elektronik 
Konduksi secara elektronik dapat terjadi jika batuan atau mineral memiliki jumlah elektron bebas yang besar, sehingga elektron bebas yang ada pada batuan atau mineral tersebut dapat dialirkan listrik.

2. Konduksi Secara Elektrolitik
Batuan secara umum memiliki resistivitas yang tinggi dan merupakan penghantar yang buruk. Hal ini disebabkan karena batuan memiliki pori pori yang terisi oleh fluida terutama air. Konduksi arus listrik yang ada pada batuan dibawa oleh ion ion elektrolitik dalam air, sehingga batuan tersebut menjadi penghantar elektrolitik. Volume dan susunan pori - pori batuan poros mempengaruhi besar nilai konduktivitas dan resistivitas. Nilai konduktivitas akan semakin besar jika kandungan air pada batuan berjumlah besar, dan sebaliknya nilai resistivitas akan semakin besar jika kandungan air pada batuan dalam jumlah sedikit. 

3. Konduksi Secara Dielektrik
Konduksi pada batuan mineral bersifat dielektrik terhadap aliran listrik, hal ini menunjukkan bahwa batuan atau mineral tersebut memiliki elektron bebas dalam jumlah sedikit, bahkan tidak ada sama sekali. Adanya pengaruh medan listrik dari luar menyebabkan elektron dalam bahan berpindah dan berkumpul terpisah dari inti, sehingga terjadi polarisasi. 

Berdasarkan harga resistivitas listriknya, batuan dan mineral digolongkan menjadi tiga macam, yaitu :
1. Konduktor Baik  :  10-8 Ωm
2. Semi Konduktor :  1 Ωm < ρ < 107
3. Isolator                :  ρ ˃ 107 Ωm

Manfaat Pengukuran Geolistrik


1. Geologi teknik, mengetahui struktur bawah permukaan bumi, seperti litologi batuan penyusun.
2. Bidang pertambangan,untuk mengetahui sebaran endapan mineral dan batubara.
3. Hidrologi, untuk mengetahui keberadaan lapisan akuifer.
4. Arkeologi, untuk mengetahui situs-situs peninggalan sejarah yang terpendam di dalam tanah.
5. Minyak bumi, untuk mengetahui ketebalan lapisan hidrokarbon dan jenis batuan.
6. Mitigasi bencana, untuk mengetahui keberadaan lapisan bidang gelincir pada tanah longsor.

Senin, 10 Juni 2024

Survei Geolistrik Untuk Mengetahui Potensi Air Tanah Di Desa Bukit Pangkuasan Kecamatan Batanghari Leko Kabupaten Musi Banyuasin

Pengukuran Geolistrik

Metode geolistrik merupakan metode yang memanfaatkan sifat - sifat aliran listrik di dalam bumi sehingga dapat menggambarkan lapisan bawah permukaan. Survei geolistrik dapat menjelaskan tentang potensi air tanah yang terdapat dalam lapisan bawah permukaan. Pada daerah dengan ketersediaan air permukaan yang sedikit atau bahkan tidak ada maka air tanah merupakan satu-satunya sumber air yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan makhluk hidup.

Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, maka eksplorasi air tanah dilakukan melalui tahapan yaitu melalui survei geolistrik dan hidrogeologi, dan kemudian dilanjutkan dengan pemboran sumur air dalam. Melalui pemboran eksplorasi air tanah diketahui dengan pasti muka air tanah, penurunan muka air tanah.

Kegiatan penyelidikan air tanah berupa penyelidikan geolistrik tahanan jenis (resistivitasyang dilakukan di Desa Bukit Pangkuasan Kec. Batanghari Leko Kab. Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui kedalaman dan ketebalan dari lapisan akuifer pada area tersebut. Nantinya, hasil penyelidikan ini akan dijadikan dasar dalam kegiatan pengelolaan air tanah di area tersebut berupa kegiatan pelaksanaan pengeboran air tanah.

Penyelidikan geolistrik dilakukan atas dasar sifat fisika batuan terhadap arus listrik, dimana setiap jenis batuan yang berbeda akan mempunyai harga tahanan jenis yang berbeda pula. Hal ini tergantung pada beberapa faktor, diantaranya umur batuan, kandungan elektrolit, kepadatan batuan, jumlah mineral yang dikandungnya, porositas, permeabilitas dan lain sebagainya.

Berdasarkan hal tersebut di atas apabila arus listrik searah dialirkan ke dalam tanah melalui dua elektroda arus A dan B, maka akan timbul beda potensial antara kedua elektroda arus tersebut. Beda potensial ini kemudian diukur oleh pesawat penerima (receiver) dalam satuan miliVolt.

Berdasarkan peta geologi regional daerah penelitian termasuk dalam Formasi Muaraenim yang memiliki batuan penyusun yaitu lempung, lempung pasiran, batupasir, dan batupasir tufaan. Berdasarkan hasil pengukuran dan analisa geolistrik daerah penelitian memiliki nilai resistivitas 4,62 - 446 ohmmeter yang diinterpretasikan berdasarkan nilai resistivitas tabel telford didapatkan litologi batuan penyusunnya adalah lempung, lempung tufaan, batupasir dan batupasir tufaan. Batupasir dan batupasir tufaan dapat berperan sebagai lapisan pembawa air tanah sehingga disarankan melakukan pemboran dengan kedalaman mencapai lapisan batupasir dan batupasir tufaan. 

Berdasarkan peta Cekungan Air Tanah daerah penelitian tidak termasuk kedalam zona Cekungan Air Tanah atau berada di luar wilayah batas setiap proses hidrogeologi meliputi tempat proses pengimbuhan, pengaliran dan pelepasan air tanah berlangsung. Secara hidrogeologi, Desa Bukit Pangkuasan memiliki akuifer dengan produktifitas kecil dengan kelulusan batuan rendah dan keterusan batuan rendah sampai sedang. Sehingga hal ini dapat mempengaruhi kuantitas keberadaan air tanah. 

Survei Geolistrik Untuk Mengetahui Potensi Air Tanah Di Desa Baru Jaya Kecamatan Jirak Jaya Kabupaten Musi Banyuasin

Pengukuran Geolistrik

Kebutuhan air terus meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan kebutuhan manusia, sementara ketersediaan air permukaan tidak merata di semua kondisi dan tempat, sementara itu air tanah tidak terdapat di semua tempat, melainkan dikontrol oleh kondisi hidrogeologi daerah tersebut. Untuk itu maka perlu dilakukan upaya-upaya eksplorasi air tanah guna mengetahui potensi air tanah di suatu daerah, terutama daerah-daerah yang tidak memiliki ketersedian/ketercukupan air permukaan.

Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, maka eksplorasi air tanah dilakukan melalui tahapan yaitu melalui survei geolistrik dan hidrogeologi, dan kemudian dilanjutkan dengan pemboran sumur air dalam. Melalui pemboran eksplorasi air tanah diketahui dengan pasti muka air tanah, penurunan muka air tanah.

Kegiatan penyelidikan air tanah berupa penyelidikan geolistrik tahanan jenis (resistivitas) yang telah dilakukan di Desa Baru Jaya Kec. Jirak Jaya Kab. Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui kedalaman dan ketebalan dari lapisan akuifer pada area tersebut. Nantinya, hasil penyelidikan ini akan dijadikan dasar dalam kegiatan pengelolaan air tanah di area tersebut berupa kegiatan pelaksanaan pengeboran air tanah.

Penyelidikan geolistrik dilakukan atas dasar sifat fisika batuan terhadap arus listrik, dimana setiap jenis batuan yang berbeda akan mempunyai harga tahanan jenis yang berbeda pula. Hal ini tergantung pada beberapa faktor, diantaranya umur batuan, kandungan elektrolit, kepadatan batuan, jumlah mineral yang dikandungnya, porositas, permeabilitas dan lain sebagainya.

Berdasarkan hal tersebut di atas apabila arus listrik searah dialirkan ke dalam tanah melalui dua elektroda arus A dan B, maka akan timbul beda potensial antara kedua elektroda arus tersebut. Beda potensial ini kemudian diukur oleh pesawat penerima (receiver) dalam satuan miliVolt.

Berdasarkan peta geologi regional dan hasil survei geolistrik daerah penelitian termasuk dalam Formasi Air Benakat. Berdasarkan hasil pengukuran dan analisa geolistrik daerah penelitian memiliki nilai resistivitas 3-96,3 ohmmeter yang diidentifikasi berdasarkan tabel telford didapatkan litologi batuan penyusunnya adalah batulempung, batupasir tufaan, batu tuff dan batulanau. Batupasir tufaan berperan sebagai lapisan pembawa air tanah sehingga disarankan melakukan pemboran dengan kedalaman mencapai lapisan batupasir tufaan.

Lapisan tanah yang berada pada Formasi Air Benakat, kandungan air tanah sangat terbatas dibandingkan Formasi Muaraenim. Daerah penelitian tidak termasuk kedalam zona Cekungan Air Tanah atau berada di luar wilayah batas setiap proses hidrogeologi meliputi tempat proses pengimbuhan, pengaliran dan pelepasan air tanah berlangsung.

Kamis, 30 Mei 2024

Metode Geolistrik Sebagai Penyelidikan Awal Pembangunan Turap Di Tepi Sungai

Contoh Pembangunan Turap di Kalbar (suarapemredkalbar.com)

Erosi merupakan perpindahan atau terangkutnya tanah dari suatu tempat ke tempat lain oleh media alami. Erosi dapat terjadi karena penggerusan tebing sungai oleh air yang mengalir atau hantaman ombak yang cukup kuat. Sehingga perlu dilakukan adanya perlindungan terhadap tebing sungai agar tidak terjadi erosi. Untuk mengantisipasi terjadinya erosi maka perlu dibangun turap. Turap merupakan susunan konstruksi yang bertujuan untuk penahan tekanan pada tanah, sehingga berguna untuk mencegah runtuhan tanah. Turap memiliki sheet pile yang akan membentuk suatu dinding vertikal untuk menahan tanah dengan perbedaan elevasi dan dirancang secara berkesinambungan ke bawah permukaan.

Dalam perencanaan pembangunan atau pemasangan pancang untuk bangunan turap perlu dilakukan penyelidikan atau identifikasi kondisi lapisan lapisan bawah permukaan. Suatu bangunan yang dibangun tanpa memperhatikan kondisi litologi bawah permukaan akan menyebabkan resiko yang besar terhadap kekuatan bangunan tersebut. Salah satu metode yang dapat mengetahui kondisi bawah permukaan yaitu metode geolistrik. 

Metode geolistrik merupakan metode yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi lapisan bawah permukaan dengan cara mempelajari sifat aliran listrik pada batuan di bawah permukaan bumi. Prinsip pengukuran metode geolistrik dilakukan dengan cara menginjeksikan arus listrik ke dalam bumi dan mengukur nilai beda potensial yang dihasilkan.

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode geolistrik konfigurasi Wenner-Schlumberger. Konfigurasi Wenner-Schlumberger merupakan gabungan dari konfigurasi dasar yang diterapkan dengan tujuan untuk mendapatkan gambaran bawah permukaan. Konfigurasi Wenner-Schlumberger memiliki sensitifitas yang cukup baik secara horizontal dan vertikal. 

Berdasarkan hasil analisa geolistrik, litologi yang didapatkan dari interpretasi data geolistrik yang dikorelasikan menurut peta geologi, daerah penelitian berada pada formasi alluvium dengan batuan penyusun yaitu lempung, bongkah, kerikil, kerakal, pasir dan batupasir. Daerah penelitian berada di tebing sungai yang mempunyai kemiringan curam sehingga berpotensi terjadi longsor. Lapisan longsor ditandai dengan adanya lapisan impermeable berada di bawah lapisan permeable dan lapisan impermeable akan bertindak sebagai bidang gelincir yang kemudian akan menarik lapisan permeable (Pranata dkk). 

Dari hasil korelasi antara informasi penampang 2D geolistrik dengan data geologi, maka dapat direkomendasikan kedalaman tiang pancang untuk pembangunan turap yang dapat mengantisipasi longsor. Pada penelitian ini, lapisan yang berperan sebagai bidang gelincir adalah lempung. Direkomendasikan pada daerah penelitian untuk dibangun tiang pancang pada kedalaman 6-8 meter. Ujung dari tiang pancang harus sampai pada lapisan lempung terdalam karena tiang pancang harus memotong bidang gelincir. 

Menurut Kusuma dkk, lempung terdiri dari butir yang sangat kecil dan menunjukkan sifat kohesif sehingga tiang pancang yang diletakkan akan lebih melekat satu sama lain. Tiang pancang yang mencapai kedalaman pada lapisan lempung akan saling mengikat dan menjadikan bangunan turap kuat dan kokoh. 

Senin, 27 Mei 2024

Identifikasi Bidang Gelincir Zona Rawan Longsor Menggunakan Metode Geolistrik


Longsor merupakan suatu peristiwa geologi yang terjadi karena adanya perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, tanah, bahan rombakan, atau campuran dari bahan tersebut, bergerak ke bawah atau keluar lereng. Faktor yang mempengaruhi terjadinya longsor meliputi curah hujan, jenis batuan, jenis tanah, kemiringan lereng dan penggunaan lahan (Rahmad et al, 2017).  Sebagai upaya untuk mengurangi resiko bencana tanah longsor dan untuk menandai kawasan yang berpotensi longsor di suatu daerah perlu dilakukan pengukuran secara detail dan menyeluruh. Salah satu indikasi suatu kawasan memiliki potensi longsor adalah adanya bidang gelincir di sepanjang lereng. 

Bidang gelincir terbentuk karena adanya perbedaan lapisan antara lapisan tanah bagian atas dengan lapisan yang ada di bawahnya. Lapisan paling atas sebuah lereng biasanya adalah lapisan tanah yang lolos air sehingga air hujan dengan mudah terinfiltrasi ke dalam lereng. Air hujan yang masuk kedalam tanah biasanya terhambat akibat adanya lapisan kedap air (impermeable) yang menjadi bidang gelincir. Bidang gelincir dapat dideteksi dengan menggunakan metode geolistrik (Muchlis, 2015).

Metode geolistrik resistivitas merupakan salah satu dari metode geofisika yang dapat mendeteksi aliran listrik di bawah permukaan bumi. Salah satu aplikasi metode geolistrik tahanan jenis adalah dapat mengidentifikasi bidang gelincir pada daerah rawan longsor. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal,  metode geolistrik dapat dipadukan dengan hasil pengeboran di beberapa titik pada daerah penelitian. 

Pengambilan data geolistrik dilakukan dengan beberapa prosedur :
- Menentukan lokasi pengukuran pada peta lapangan, parameter yang perlu diperhatikan: geologi, topografi dan faktor lain yang berhubungan dengan penelitian.
- Menempatkan lokasi titik pengukuran di lapangan, diusahakan pada permukaan yang mendatar dan mempunyai lintasan yang lurus.
- Mengakuisisi data lapangan atau pengukuran data resistivitas
- Tahap pengolahan data, meliputi penentuan faktor geometri (K), tahanan jenis (R), dan resistivitas semu (ρa) serta analisis data untuk pembuatan peta dan penyusunan laporan akhir. Data diolah berdasarkan formula yang telah ditetapkan, sedangkan penampang bawah permukaan dibuat dengan software Res2Dinv.

Interpretasi data resistivitas 2 dimensi untuk melihat sebaran nilai resistivitas permukaan lokasi penelitian berdasarkan warna yang diberikan pada penampakan hasil pemrosesan data. Berdasarkan perbedaan nilai resistivitas inilah dapat diinterpretasi kedalaman atau datum point dari setiap titik sounding. Hasil inversi 2D dianalisa berdasarkan nilai resistivitas dan data hasil pengeboran. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh struktur geologi, stratigrafi batuan dan bentuk agihan air tanah daerah penelitian yang dituangkan dalam peta. 

Setelah memperoleh hasil inversi 2D yang dianalisa berdasarkan nilai resistivitas dan data hasil pengeboran, selanjutnya dilakukan drilling (pengeboran). Drilling dilakukan dengan tujuan untuk membandingkan hasil interpretasi data geolistrik 2D dengan kenyataan di lapangan. data pengeboran digunakan untuk analisa litologi serta kedalaman batuan dilokasi penelitian. 

Kedalaman bidang gelincir dapat bervariasi karena dipengaruhi oleh pelapukan batuan. Menurut Melkianus et al (2020) pelapukan batuan dapat terjadi karena berbagai macam faktor seperti: waktu, jenis dan struktur batuan, topografi, organisme, iklim dan cuaca serta keadaan vegetasi. Proses pelapukan batuan memiliki pengaruh yang signifikan dalam penentuan bidang gelincir. Proses ini akan mengakibatkan perubahan fisik, mekanik dan kimia batuan pada zona longsoran (Permanajati, 2019). Batuan dan mineral yang mengalami pelapukan menghasilkan partikel dengan berbagai macam ukuran yaitu, batu, kerikil, pasir, lempung dan tanah liat. 

Kedalaman bidang gelincir pada daerah rawan longsor penting untuk diketahui karena dapat mengetahui seberapa besar resiko longsor yang terjadi. Semakin dalam bidang gelincir, tingkat bahaya longsor akan semakin besar. Semakin dangkal bidang gelincir, tingkat bahaya longsor akan semakin kecil (Zakaria, 2011).



Survei Geolistrik Untuk Mengetahui Potensi Air Tanah Di Kabupaten Tanjung Jabung Timur



Metode geolistrik merupakan metode yang memanfaatkan sifat-sifat aliran listrik di dalam bumi sehingga dapat menggambarkan lapisan bawah permukaan. Survei geolistrik dapat menjelaskan tentang potensi air tanah yang terdapat dalam lapisan bawah permukaan. Pada daerah dengan ketersediaan air permukaan yang sedikit atau bahkan tidak ada maka air tanah merupakan satu-satunya sumber air yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan makhluk hidup.

Meningkatnya kebutuhan air disebabkan karena adanya peningkatan jumlah penduduk, sementara ketersediaan air permukaan tidak merata di semua tempat. Ketersediaan air permukaan dipengaruhi oleh musim, ketika musim kemarau beberapa daerah mengalami dapat mengalami kekurangan air. Oleh karena itu diperlukan upaya-upaya eksplorasi air tanah untuk mengetahui potensi air tanah di suatu daerah yang tidak memiliki ketersediaan air permukaan.

Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, eksplorasi air tanah dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu survei geolistrik yang dikorelasikan dengan data geologi dan hidrogeologi suatu daerah, kemudian dilanjutkan dengan pemboran sumur air dalam. Melalui pemboran dapat diketahui dengan pasti muka air tanah dan penurunan muka air tanah.

Secara hidrogeologi Kabupaten Tanjung Jabung Timur didominasi daerah dengan akuifer setempat produktif. Akuifer dengan aliran melalui celahan dan ruang antar butir. Terdapat juga setempat akuifer berproduktif sedang yaitu akuifer dengan aliran melalui ruang antar butir. Berdasarkan peta geologi lembar Jambi, daerah penelitian termasuk kedalam 3 formasi yaitu Formasi Muara Enim (Tmpm), Formasi Kasai (QTk) dan Endapan Aluvium (Qa). 

Hasil pengukuran geolistrik dilapangan mendapatkan nilai resistivitas semu lapisan bawah permukaan. Kemudian dilakukan pengolahan data sehingga didapatkan nilai resistivitas sebenarnya. Untuk mengetahui lapisan bawah permukaan dilakukan pengolahan data sehingga menampilkan kurva hubungan nilai resistivitas dan kedalaman lapisan seperti gambar di bawah.



Dari kurva diatas kemudian dilakukan interpretasi didapatkan survei geolistrik dengan resistivitas batuan 5,08-125 ohmmeter dengan batuan penyusun lempung dan batupasir tufaan. Batuan yang dapat berperan sebagai lapisan akuifer (lapisan pembawa air tanah) adalah batupasir tufaan, dikarenakan batupasir tufaan memiliki porositas dan permeabilitas yang baik. Sehingga batupasir tufaan dapat menyimpan dan meloloskan air tanah dengan baik. Data geolistrik dapat memberikan gambaran bawah permukaan secara 1 dimensi yang menyatakan nilai kedalaman dan ketebalan lapisan. Dari hasil survei geolistrik dapat dilakukan pemboran air tanah dengan desain yang disesuaikan dengan data kedalaman dan ketebalan lapisan. 


Senin, 20 Mei 2024

SURVEI GEOLISTRIK UNTUK MENGETAHUI POTENSI AIR TANAH DI KOTA JAMBI


Metode geolistrik merupakan metode yang memanfaatkan sifat - sifat aliran listrik di dalam bumi sehingga dapat menggambarkan lapisan bawah permukaan. Survey geolistrik dapat menjelaskan tentang potensi air tanah yang terdapat dalam lapisan bawah permukaan. Pada daerah dengan ketersediaan air permukaan yang sedikit atau bahkan tidak ada maka air tanah merupakan satu-satunya sumber air yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan makhluk hidup.

Meningkatnya kebutuhan air disebabkan karena adanya peningkatan jumlah penduduk, sementara ketersediaan air permukaan tidak merata di semua tempat. Ketersediaan air permukaan dipengaruhi oleh musim, ketika musim kemarau beberapa daerah mengalami dapat mengalami kekurangan air. Oleh karena itu diperlukan upaya-upaya eksplorasi air tanah untuk mengetahui potensi air tanah di suatu daerah yang tidak memiliki ketersediaan air permukaan.

Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, eksplorasi air tanah dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu survey geolistrik yang dikorelasikan dengan data geologi dan hidrogeologi suatu daerah, kemudian dilanjutkan dengan pemboran sumur air dalam. Melalui pemboran dapat diketahui dengan pasti muka air tanah dan penurunan muka air tanah.



Berdasarkan data hidrogeologi Kota Jambi berada di daerah dengan Zona Non Cekungan Air Tanah dengan sistem akuifer celah/sarang. Memiliki produktifitas akuifer yang produktif kecil dengan kelulusan batuan rendah. Secara geologi Kota Jambi termasuk kedalam Formasi Muaraenim dengan batuan penyusun batu tuff, lempung dan batupasir. 

Dari hasil survey geolistrik didapatkan data resistivitas batuan 4-921 ohmmeter dengan batuan penyusun lempung, batu tuff dan batupasir tufaan. Batuan yang dapat berperan sebagai lapisan akuifer (lapisan pembawa air tanah) adalah batupasir tufaan, dikarenakan batupasir tufaan memiliki porositas dan permeabilitas yang baik. Sehingga batupasir tufaan dapat menyimpan dan meloloskan air tanah dengan baik. Data geolistrik dapat memberikan gambaran bawah permukaan secara 1 dimensi yang menyatakan nilai kedalaman dan ketebalan lapisan. Dari hasil survey geolistrik dapat dilakukan pemboran air tanah dengan desain yang disesuaikan dengan data kedalaman dan ketebalan lapisan. 

 

 



Jumat, 17 Mei 2024

SURVEI GEOLISTRIK DI KECAMATAN SEKERNAN, MUARO JAMBI, JAMBI

 


Survey geolistrik merupakan tahapan awal untuk memperoleh informasi lapisan bawah permukaan sebelum dilakukan pemboran eskplorasi.  Survey geolistrik dapat menjelaskan tentang potensi air tanah untuk mendukung pemenuhan kebutuhan air. Air tanah adalah air yang terdapat dalam lapisan tanah atau batuan di bawah permukaan yang dikenal dengan lapisan akuifer. Lapisan akuifer dapat menyimpan dan meneruskan air tanah dalam jumlah cukup. Pada daerah dengan ketersediaan air permukaan yang sedikit atau bahkan tidak ada maka air tanah merupakan satu-satunya sumber air yang dapat dimanfaatkan dalam memenuhi  kebutuhan masyarakat dan makhluk hidup.

Kebutuhan air terus meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan kebutuhan manusia, sementara ketersediaan air permukaan tidak merata di semua kondisi dan tempat. Sementara itu air tanah tidak terdapat di semua tempat, melainkan dikontrol oleh kondisi hidrogeologi daerah tersebut. Untuk itu maka perlu dilakukan upaya-upaya eksplorasi air tanah guna mengetahui potensi air tanah di suatu daerah, terutama daerah-daerah yang tidak memiliki ketersedian/ketercukupan air permukaan. 

Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, maka eksplorasi air tanah dilakukan melalui tahapan yaitu: melalui survey geolistrik yang dikorelasikan dengan data geologi dan hidrogeologi, kemudian dilanjutkan dengan pemboran sumur air dalam. Melalui pemboran eksplorasi air tanah dapat diketahui dengan pasti muka air tanah, penurunan muka air tanah.

Berdasarkan peta geologi daerah penelitian berada pada Formasi Muaraenim dengan batuan penyusun adalah lempung pasiran, lempung dan batupasir. Berdasarkan peta hidrogeologi daerah penelitian merupakan Zona Non Cekungan Air Tanah yang memiliki sistem akuifer dengan aliran melalui celah/sarang. Memiliki produktifitas akuifer yang produktif kecil dengan keterusan batuan relatif rendah. 


Data Hasil Pengukuran Geolistrik

Dari hasil pengukuran di lapangan didapatkan nilai resistivitas semu bawah permukaan. Data nilai resistivitas semu tersebut dilakukan pengolahan hingga didapatkan nilai resistivitas setiap lapisan batuan. Dari nilai resistivitas batuan didapatkan litologi batuan seperti pada gambar di bawah ini. 

Dari hasil survey Geolistrik diatas maka dapat terlihat lapisan akuifer atau lapisan pembawa air tanah yaitu pasir. Maka dari data diatas dapat disimpulkan bahwa lapisan akuifer berada pada kedalaman 75 - 85 meter dan 105 - 130 meter. Sehingga dapat disarankan pengeboran 120 meter untuk mendapatkan air tanah yang relatif maksimal.