Bidang gelincir terbentuk karena adanya perbedaan lapisan antara lapisan tanah bagian atas dengan lapisan yang ada di bawahnya. Lapisan paling atas sebuah lereng biasanya adalah lapisan tanah yang lolos air sehingga air hujan dengan mudah terinfiltrasi ke dalam lereng. Air hujan yang masuk kedalam tanah biasanya terhambat akibat adanya lapisan kedap air (impermeable) yang menjadi bidang gelincir. Bidang gelincir dapat dideteksi dengan menggunakan metode geolistrik (Muchlis, 2015).
Metode geolistrik resistivitas merupakan salah satu dari metode geofisika yang dapat mendeteksi aliran listrik di bawah permukaan bumi. Salah satu aplikasi metode geolistrik tahanan jenis adalah dapat mengidentifikasi bidang gelincir pada daerah rawan longsor. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, metode geolistrik dapat dipadukan dengan hasil pengeboran di beberapa titik pada daerah penelitian.
Interpretasi data resistivitas 2 dimensi untuk melihat sebaran nilai resistivitas permukaan lokasi penelitian berdasarkan warna yang diberikan pada penampakan hasil pemrosesan data. Berdasarkan perbedaan nilai resistivitas inilah dapat diinterpretasi kedalaman atau datum point dari setiap titik sounding. Hasil inversi 2D dianalisa berdasarkan nilai resistivitas dan data hasil pengeboran. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh struktur geologi, stratigrafi batuan dan bentuk agihan air tanah daerah penelitian yang dituangkan dalam peta.
Setelah memperoleh hasil inversi 2D yang dianalisa berdasarkan nilai resistivitas dan data hasil pengeboran, selanjutnya dilakukan drilling (pengeboran). Drilling dilakukan dengan tujuan untuk membandingkan hasil interpretasi data geolistrik 2D dengan kenyataan di lapangan. data pengeboran digunakan untuk analisa litologi serta kedalaman batuan dilokasi penelitian.
Kedalaman bidang gelincir dapat bervariasi karena dipengaruhi oleh pelapukan batuan. Menurut Melkianus et al (2020) pelapukan batuan dapat terjadi karena berbagai macam faktor seperti: waktu, jenis dan struktur batuan, topografi, organisme, iklim dan cuaca serta keadaan vegetasi. Proses pelapukan batuan memiliki pengaruh yang signifikan dalam penentuan bidang gelincir. Proses ini akan mengakibatkan perubahan fisik, mekanik dan kimia batuan pada zona longsoran (Permanajati, 2019). Batuan dan mineral yang mengalami pelapukan menghasilkan partikel dengan berbagai macam ukuran yaitu, batu, kerikil, pasir, lempung dan tanah liat.
Kedalaman bidang gelincir pada daerah rawan longsor penting untuk diketahui karena dapat mengetahui seberapa besar resiko longsor yang terjadi. Semakin dalam bidang gelincir, tingkat bahaya longsor akan semakin besar. Semakin dangkal bidang gelincir, tingkat bahaya longsor akan semakin kecil (Zakaria, 2011).